Pages

Tampilkan postingan dengan label Sastra-Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra-Humaniora. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Agustus 2010

Kezaliman Harus Dilawan

Kaki telah jauh melangkah
Pantang surut kebelakang
Mereka yang memilih bergerak,
telah memberi makna pada perjuangan.
Sementara yang memilih diam,
telah mati sebelum waktunya.
Kebenaran harus disuarakan
Keadilan harus diperjuangkan
Jangan pernah menyerah,
sebab pertempuran belum selesai.
(Puisi untuk Munir,1965-2004)

Minggu, 11 Juli 2010

Kepercayaan dan Harapan

Oleh: Ading Sutisna
dari Kolom Goenawan Mohamad “Mencoba Berpisah dari Sri Mulyani”
Majalah Tempo, 30 Mei 2010


Yang dirampok oleh para koruptor dari masyarakat bukan cuma uang,
Tapi juga kepercayaan dan harapan.
Korupsi yang kita alami tiap hari,
akan membuat kita saling curiga dalam bisnis dan politik.
Korupsi yang kita alami setiap hari akan membuat kita hidup dengan sinisme.
Sinisme itu racun.
Adanya sinisme, menunjukan bahwa “modal sosial” kita terkikis.
Tanpa “modal sosial”, sebuah negeri setengah lumpuh dan menyerah.
Sejarah Indonesia menunjukan,
bahwa harapan adalah sesuatu yang sulit, tapi tak pernah padam.
Kita memang sering kecewa.
Kita memang tahu, sejak 1945 Indonesia dibangun oleh potongan-potongan 
optimisme yang pendek.
Tapi kita tahu, sejak 1945 pula Indonesia selalu bangkit kembali.
Bangsa ini selalu berangkat kerja kembali,
Mengangkut batu berat cita-cita itu lagi,
biarpun berkali-kali tangan patah, tubuh jatuh, dan semangat terguncang.
Semangkin lama, kita semangkin arif.
Kita mungkin tidak akan bisa mencapai apa yang kita cita-citakan secara penuh,
tapi kita merasakan bahwa Indonesia adalah amanah,
dan amanah bagi kita adalah tugas, takdir, dan sejarah.
Kita tak bisa melepaskan diri dari komitmen kita buat Indonesia,
selama kita ada.


Tanjung Priok,
Isra Mi’raj, 27 Rajab 1431 H/10 Juli 2010 M 




Jumat, 02 Juli 2010

Awalnya adalah Kemiskinan Iman

Oleh:Ading Sutisna
Negara tetangga sudah tahu
Ambalat itu bukan miliknya
Dalam pandangannya,
republik ini sudah terpuruk, lemah.
Pejabatnya korup, birokrasi, dan para penegak hukumnya gampang disogok

Bangsa ini,
Sudah terperosok ke dalam jurang “kemiskinan”
Semua “kemiskinan”
Miskin ekonomi, karena banyak hutang.
Miskin moral.
Kejahatan apa yang tak ada di sini?
Miskin nalar, miskin etika, miskin hukum. 
Dewi keadilan yang matanya ditutup, di negeri ini masih bisa melihat uang.

Semua “kemiskinan”
Awalnya adalah kemiskinan iman.
“Kami kembalikan kamu ke tempat serendah-rendahnya”.
“Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh,
maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Tanjung Priok, 3 Muharam 1426 H/12 Maret 2005


Indonesia di Tahun 2020

Oleh:Ading Sutisna
Teruntuk orang-orang Indonesia yang mendambakan, bangsa dan nusa Indonesia menjadi bangsa dan nusa yang baldah, thoyyibah wa Robbun ghofur.

Apa yang diharapkan Indonesia di tahun 2020?
Indonesia diperkirakan akan out of game
karena,
sampai dengan saat ini,
bangsa ini,
belum pernah dipimpin oleh pemimpin yang berkualitas.
Engkau tahu:
“Apa syarat-syarat untuk menjadi pemimpin yang berkualitas?”
“Aku berpendapat, pemimpin itu harus memiliki 5 SIFAT. Ya…! SIFAT sebagai syarat untuk menjadi pemimpin berkualitas”.

S yang pertama adalah Sidiq, Jujur.
Pemimpin itu harus jujur.
Pemimpin yang tidak jujur, bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga merugikan dirinya sendiri
Pemimpin yang jujur lebih mengutamakan kepentingan orang banyak yang dhuafa, dibandingkan kepentingan dirinya, keluarganya atau kelompoknya.
Kamu lihat, apakah pemimpin di dekatmu lebih mementingkan orang kebanyakan yang dhuafa?, atau Ia lebih mementingkan dirinya, keluarganya atau kelompoknya?

I yang kedua adalah Istiqomah, konsisten
Pemimpin yang berkualitas itu, omongannya bisa dipegang
Jangan memilih orang munafik sebagai pemimpin
orang munafik itu,
bila Ia berkata, Ia dusta,
bila Ia diberi kepercayaan (amanah), Ia berkhianat,
bila Ia berjanji, tidak Ia tepati.

F yang ketiga adalah Fathonah, cerdas

A yang keempat adalah Amanah, dapat dipercaya

T yang kelima adalah Tabligh, mengajak, memobilisasi orang untuk berbuat baik

Pemimpin yang berkualitas akan menghasilkan karya yang berkualitas, bila Ia berkerja didasari oleh 5 prinsip DAPAT

D yang pertama, adalah Demokratis, yaitu memberikan peluang seluas mungkin kepada para stakeholders untuk berpartisipasi dalam peningkatkan kualitas karya, apalagi untuk organisasi publik, tidak ada alasan bagi pemimpin untuk bersifat otokrasi. Organisasi publik yang dijalankan dengan kepemimpinan otokrasi, akan menjadikan organisasi itu milik pimpinan, bukan milik publik. Pimpinan mengambil sesuatu yang bukan haknya. Bila hal itu terjadi, pimpinan seperti itu, harus disingkirkan.

A yang kedua adalah Adaptif. Tidak ada sesuatu yang statis, kecuali kematian. Demikian pula organisasi. Seperti halnya organ (tubuh) yang selalu menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, tetapi tetap memelihara eksistensinya. Tanpa eksistensi, sesuatu itu sebenarnya tidak ada. Larut atau melebur itu bukan adaptif, karena sesuatu yang larut atau melebur itu menjadi tidak ada. 

P yang ketiga adalah Profesional
Profesional, adalah orang yang bekerja yang menghasilkan karya yang berkualitas. Karya yang berkualitas menuntut kerja yang berkualitas. Dan kerja yang berkualitas memerlukan ilmu, pengetahuan dan seni.

A yang keempat adalah Akuntabel
Akuntabel, adalah bertanggung jawab
Pemimpin yang berkualitas bertanggung jawab terhadap yang telah diputuskannya

T yang kelima adalah Transparan
Transparan, adalah keterbukaan
Pemimpin yang berkualitas membuka diri terhadap hak stakeholders untuk memperoleh informasi, dengan tetap memperhatikan dan dapat membedakan antara hak private dan hak publik

Pemimpin yang memiliki 5 SIFAT dan berkerja dengan didasari 5 prinsip DAPAT, akan memperoleh DANA.
Apa,…..DANA? Fulus….?
Ya,……DANA! Ya…..Fulus…..! Tetapi, tidak hanya Fulus.
Dunia Akhirat, Nikmat Akhirnya.
“Barang siapa yang bekerja untuk akhirat, Ia akan mendapat dunia dan akhirat, 
barang siapa yang bekerja untuk dunia semata, Ia hanya akan mendapat dunia”.
Kamu tahu orang yang mengejar dunia semata?
Al-Qur’an menyebutnya, Ia seperti binatang.
Thomas Hubbes, menyebutnya,”serigala atas sesama”.

Aku berkeyakinan, pemimpin bangsa yang menjalankan 5 SIFAT dan 5 DAPAT
Akan menghantarkan bangsa dan nusa ini menyongsong tahun 2020 
dengan penuh ketegaran dan percaya diri.
Bukan bangsa kuli, dan menjadi kulinya bangsa-bangsa.

Jakarta, 2 Shafar 1426 H/ 12 Maret 2005